Rabu, 13-05-2026
  • Website Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunan
  • Website Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunanWebsite Khusus Pramuka di SMK ADIAS Pemalang, masih dalam tahap pembangunan

Sejarah Pramuka

Diterbitkan : - Kategori : Materi
Lord Robert Stephenson Smyth Baden-Powell

Gerakan Pramuka, atau yang dikenal sebagai Gerakan Kepanduan (Scouting), dimulai oleh seorang pahlawan perang dan letnan jenderal angkatan darat Inggris bernama Lord Robert Stephenson Smyth Baden-Powell, 1st Baron Baden-Powell (1857-1941).

Awalnya, pada tahun 1899, saat bertugas dalam Perang Boer di Afrika Selatan, Baden-Powell menulis buku panduan militer berjudul “Aids to Scouting”. Tak disangka, buku ini justru sangat disukai oleh para pemuda di Inggris karena isinya yang mengajarkan keterampilan bertahan hidup, pengintaian, dan navigasi.

Melihat antusiasme tersebut, Baden-Powell menyadari bahwa keterampilan ini bisa digunakan untuk mendidik karakter anak-anak muda. Ia kemudian mengembangkan idenya.

Percobaan Pertama dan Awal Gerakan

Pada tahun 1907, Baden-Powell mengadakan perkemahan eksperimen di Pulau Brownsea, Inggris. Ia mengumpulkan 22 anak laki-laki dari berbagai latar belakang sosial. Dalam perkemahan ini, mereka diajarkan keterampilan alam, semangat kerja sama, dan nilai-nilai kepemimpinan. Perkemahan ini menjadi tonggak sejarah yang menandai lahirnya gerakan kepanduan.

Pada tahun 1908, Baden-Powell menerbitkan buku “Scouting for Boys”, yang menjadi panduan resmi bagi gerakan ini. Buku ini laku keras dan menyebar ke seluruh dunia. Gerakan kepanduan pun berkembang pesat.

Pada 1910, Baden-Powell memutuskan untuk pensiun dari militer agar bisa fokus sepenuhnya pada gerakan ini. Istrinya, Olave St. Clair Soames, dan saudara perempuannya, Agnes Baden-Powell, juga turut berperan besar, terutama dalam mendirikan gerakan kepanduan untuk anak perempuan (Girl Guides).

Pada 1920, Jambore Pramuka Sedunia yang pertama diadakan di London. Pada acara tersebut, Baden-Powell dinobatkan sebagai Chief Scout of the World atau Bapak Pramuka Sedunia.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Gerakan Pramuka di Indonesia dimulai sejak masa kolonial Belanda, ketika Belanda mendirikan organisasi kepanduan bernama Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO) pada tahun 1912. Nama ini kemudian berubah menjadi Nederlands-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) pada 1916.

Sebagai respons, para tokoh pergerakan nasional mendirikan organisasi kepanduan yang bernafaskan kebangsaan. Organisasi kepanduan pertama milik bangsa Indonesia adalah Javaansche Padvinders Organisatie (JPO) yang didirikan oleh Mangkunegara VII pada tahun 1916.

Untuk menghindari penggunaan istilah padvinder yang dilarang Belanda, KH. Agus Salim memperkenalkan istilah “Pramuka” yang merupakan singkatan dari “Praja Muda Karana”, yang artinya ‘Jiwa Muda yang Suka Berkarya’.

Peran Sri Sultan Hamengkubuwono IX

Pada masa kemerdekaan, terdapat lebih dari 100 organisasi kepanduan yang berbeda-beda. Keadaan ini membuat pembinaan menjadi tidak efektif.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX, yang saat itu merupakan Sultan Yogyakarta dan Wakil Presiden Indonesia, memiliki peran sentral dalam penyatuan gerakan kepanduan di Indonesia. Ia adalah Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) pertama yang menjabat selama empat periode berturut-turut (1961-1974). Berkat kepemimpinannya, ia berhasil menyatukan seluruh organisasi kepanduan menjadi satu wadah tunggal, yaitu Gerakan Pramuka.

Peran besarnya dalam menyatukan dan mengembangkan gerakan ini membuat Sri Sultan Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai Bapak Pramuka Indonesia pada Musyawarah Nasional Gerakan Pramuka tahun 1988 di Dili.

Peleburan Organisasi dan Berdirinya Gerakan Pramuka

Oleh karena itu, pada tanggal 9 Maret 1961, Presiden Soekarno mengeluarkan amanat yang bertujuan menyatukan seluruh organisasi kepanduan di Indonesia. Peristiwa ini dikenal sebagai Hari Tunas Gerakan Pramuka.

Puncaknya, pada tanggal 14 Agustus 1961, Gerakan Pramuka secara resmi didirikan melalui pelantikan Majelis Pimpinan Nasional (Mapinas), Kwartir Nasional (Kwarnas), dan Kwartir Nasional Harian (Kwarnari). Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Pramuka di Indonesia.

Sejak saat itu, Gerakan Pramuka menjadi satu-satunya organisasi kepanduan yang diakui di Indonesia, dengan tujuan mendidik generasi muda berdasarkan nilai-nilai Pancasila dan Dasa Dharma, serta Tri Satya, untuk membentuk karakter yang beriman, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.

3 Komentar

razzak
Senin, 26 Jan 2026

LATIHAN MENYUSUN DOKUMEN FORMAL

A. PANDUAN 1: PENGATURAN KERTAS DAN MARGIN
Langkah pertama dalam membuat dokumen adalah menentukan ukuran kertas dan batas tepi (margin). Hal ini sangat penting agar saat dicetak, hasil tulisan tidak terpotong dan bisa dijilid dengan rapi.
Tugas Praktik 1:
1. Atur Ukuran Kertas: Pergi ke tab Layout > Size > More Paper Sizes. Ubah Width menjadi 21 cm dan Height menjadi 33 cm (Ukuran F4/Folio).
2. Atur Margin: Pergi ke tab Layout > Margins > Custom Margins.
o Set Left (Kiri): 3 cm (karena akan dijilid).
o Set Top (Atas), Bottom (Bawah), dan Right (Kanan): 2 cm.

B. PANDUAN 2: PERAPIAN PARAGRAF (SPASI & JARAK)
Seringkali dokumen terlihat berantakan karena jarak antar baris terlalu rapat atau jarak antar paragraf terlalu renggang (ada “ruang kosong” otomatis saat menekan Enter).
Tugas Praktik 2:
1. Atur Spasi Baris: Blok seluruh tulisan ini (Ctrl + A), lalu pada tab Home, klik ikon Line and Paragraph Spacing. Pilih angka 1,5. Ini adalah standar spasi untuk makalah.
2. Atur Before & After: Agar tidak ada jarak tambahan yang aneh saat Anda menekan Enter, buka tab Layout. Pada bagian Spacing, pastikan nilai Before: 0 pt dan After: 0 pt.
3. Rata Kanan-Kiri: Pastikan seluruh teks menggunakan fitur Justify (Ctrl + J) agar terlihat rapi seperti buku.

C. PANDUAN 3: FORMAT HURUF (FONT)
Dokumen resmi sekolah atau kantor wajib menggunakan jenis huruf yang mudah dibaca dan formal.
Tugas Praktik 3:
1. Ubah semua jenis huruf (font) menjadi Times New Roman.
2. Ubah ukuran huruf menjadi 12 pt.
3. Khusus untuk Judul di paling atas, gunakan fitur Bold (Cetak Tebal) dan Center (Rata Tengah).

CONTOH TEKS UNTUK DIRAPIKAN
(Rapikan paragraf di bawah ini sesuai petunjuk di atas)
“Teknologi informasi adalah jantung dari perubahan zaman. Siswa kelas 10 harus mampu menguasai Microsoft Word bukan sekadar untuk mengetik, melainkan untuk menyajikan data secara profesional. Bayangkan jika sebuah dokumen penting dikirim dengan margin yang berantakan; hal itu akan menyulitkan pembaca dan membuat dokumen tersebut sulit untuk diarsipkan. Dengan mengatur margin kiri sebesar 3 cm, kita memberikan ruang yang cukup untuk staples atau penjilidan spiral tanpa menutupi satu kata pun dari isi tulisan kita. Begitu juga dengan penggunaan ukuran kertas F4 yang merupakan standar umum di perkantoran Indonesia.”

Balas
ASDASD
Senin, 26 Jan 2026

RAZZAK

ini adalah konten

Balas
ASDAS
Senin, 26 Jan 2026

……….

RAZZAK

ini adalah konten
…….

Balas

Beri Komentar

Tinggalkan Balasan ke ASDASD Batalkan balasan

Post Terkait

Materi PBB Dasar

Minggu, 7 Sep 2025

Pos Terbaru

Kategori


Statistik Pengunjung

  • Today's visitors: 0
  • Today's page views: : 0
  • Total visitors : 278
  • Total page views: 369